Selasa, 26 Mei 2009

Ketika Politik dan Ekonomi bertemu

Baru saja hadir di acara seminar BEI mengenai Politik dan Prospek Ekonomi dikaitkan dengan politik terutama Pilpres. Lumayan bagus paparan dari Eep Saifullah Fatah, dan menghibur.
Intinya mungkin selama ini kita di Indonesia sudah jenuh dengan politik yang itu itu juga loe lagi loe lagi..tapi bagi pasar modal, politik itu indikator yang penting juga dalam mengantisipasi pergerakan ekonomi makro. Lihat saja apa yang terjadi kalau subsidi BBM dihapuskan (SBY bilang akan memberikan insentif yang menarik bagi investor di bidang energi, waktu dia presentasi di kadin).
Apa itu berarti orang pasar modal harus belajar politik, takutnya malah bukan jadi investor malah jadi caleg..jee..
Menurut saya, sebaiknya kita di pasar modal cukup memahami kebijakan ekonomi yang akan diambil rezim berkuasa nantinya. semakin sedikit indikator diluar ekonomi, seharusnya analisisnya jadi semakin tajam. Terlalu banyak indikator diluar ekonomi dan pasar modal yang digunakan, ujung-ujungnya tidak jelas mau ngapain. Saking bingungnya... :-)
Ada satu hal yang menarik lagi, bahwa menurut Eep, siapapun yang berkuasa, arah ekonomi kita tidak akan terlalu banyak berubah. Alasannya karena para capres itu berpenyakit plin plan. kalo dengan kalangan pasar modal mungkin akan bilang memberikan seluas-luasnya kesempatan investasi termasuk bagi asing. Besoknya kalo didepan petani bilang akan memproteksi petani dari bahan pangan impor. Prabowo bilang jangan jual BUMN, Mega jual BUMN, hehee...ini yang paling saya ingat. Ada benarnya juga, namun kalo saya melihat stabilitas maka sebaiknya tentu memilih capres yang memberikan stabilitas politik, sehingga menjamin stabilitas kebijakan ekonomi misalnya kebijakan ekonomi tidak terkendala di DPR, tidak diobok-obok demi kepentingan golongan, dll. Salam contreng..

5 komentar:

Dudi Anandya mengatakan...

Saya kira politik dan ekonomi tidak sekedar bertemu, tapi bergaul intim.Pada prinsipnya pasar yang manapun, baik riil (kayak pasar senen yang dikunjungi untuk kapanye) maupun modal (bursa)memerlukan keadaan yang stabil untuk tumbuh. Ibarat tanaman klo tanahnya di aduk2 terus ya pasti tidak maksimal.
Saya kira arah ekonomi Indonesia sudah pada jalur yang benar (walaupun saya bukan pakar ekonomi). Sederhana saja, saya lihat pasar (sektor riil)dan kegiatan ekonomi lain, terus berputar dengan cukup stabil. Cukup baiklah, tidak ada ketakutan berarti di masyarakat. Saya kira Indonesia menuju masa depan baru.

Putu Anom Mahadwartha mengatakan...

yup, pakar financial marketing bicara hehee... ya pak, bergaul intim, tapi jangan sampe kebablasan, nanti MBA...hehe.. Supaya mudah analisisnya, jd kalo mau analisis keuangan, ya keuangannya dulu, nanti yg buntut buntutnya nyusul...
sukses dengan kuesionernya pak.

made erawan mengatakan...

Beh luung ne puk, angon melajah ekonomi he he, pang sing kuper sajan ajak istilah2 ekonomi,...mumpung dapet kuliah gratis dari om yong,...
Salam

Universitas Islam Indonesia mengatakan...

I would like to thank you for the efforts you have made in writing this article
nice post, that's very interesting information thanks for sharing :)
I introduce a Economics student in Islamic University of Indonesia Yogyakarta

twitter : @profiluii

imam ciprut mengatakan...

Keren sob

www.kiostiket.com