Senin, 15 Maret 2010

TDL naik BLT hapus, so?

tadi pagi wawancara ttg TDL naik dan BLT dihapuskan. dampaknya?
TDL naik = biaya operasi bisnis naik; keuntungan menurun, daya saing produk turun. Dengan FTA Asean China, produk kita gagal saing. Bila berlanjut, PHK naik, maka kemiskinan meningkat. Dan disatu sisi BLT sudah hilang.
Mengapa tidak menaikkan TDL untuk golongan rumah tangga saja? walau mudah namun harus hati-hati, terutama golongan menengah kita yang konsumtif, dengan rata-rata 75% pendapatan untuk komsumsi, maka tingkat konsumsi rata-rata akan turun. Disatu sisi produk hasil industri tidak bisa diekspor karena harganya tidak kompetitif (krn TDL naik), dan daya beli menurun.
Naiknya TDL hanya cara gampang pemerintah mengatasi defisit. Tanpa dibarengi dengan peningkatan kualitas dan efisiensi pengelolaan listrik, maka kebijakan ini tidak akan efektif, dan lebih banyak dampak buruknya.

BLT = hilang; maka konsumsi golongan miskin turun. Bisa jadi karena bertambah miskin. BLT memang tidak baik dalam jangka panjang, dengan beberapa konsekuensi seperti mendidik rakyat jadi malas, dll. Namun sebaiknya tidak dihapuskan tetapi diganti dengan proyek padat karya, yg berbasis community development program. Bukan misalnya dengan mengaspal jalan, yg dikerjakan oleh masyarakat yang tidak tahu atau tidak punya skill dalam aspal mengaspal, tetapi melaksanakan kegiatan seperti pembersihan got dan gorong2x...secara kasar, seperti bergotong royong namun dibayar (Nb: mungkin istilah gotong royong sdh tidak tepat, tp intinya mengenalah).

just a though
have a nice Monday Morning...
dan Selamat Hari Raya Nyepi Caka 1932
Damai di bumi, damai di hati

Sabtu, 06 Maret 2010

Reksadana mana yg menarik di 2010?

Pertanyaan mengenai hal ini mengemuka pada wawancara radio. Ya daripada tidak, mending saya tulis saja disini, khan tidak semuanya mendengarkan radio. Pertanyaan investor yang paling sederhana, karena yang paling ditakuti investor individual adalah kehilangan uang investasi. Saya dan tim sempat melakukan survey mengenai hal-hal yang paling ditakuti dan dianggap risiko bagi investor pemula, dan jawabannya adalah kehilangan uang. Bukannya risiko yang tidak mampu dikompensasi return, namun sederhana sekali, duitnya hilang. Artinya tingkat kepercayaan investor akan perusahaan sekuritas juga menjadi hal yang dominan dikepala investor melebihi return dan risiko.
Kembali ke pertanyaan awal jawaban saya tentunya Reksadana Saham, melihat indeks IHSG yang bergerak naik dan stabil di 2500-an dengan standar deviasi yang rendah dan mendekati rata-rata indeks. Distribusi pergerakan indeks selama awal januari sampai maret awal menunjukan distribusi yang padat pada kisaran nilai rata-rata 2543. Serta terbukti kasus Century tidak terlalu membawa dampak buruk kepada bursa.
Tapi tetap saja, kalau takut risiko, selalu ada Reksadana Pendapatan Tetap sebagai pilihan lain. Dengan BI rate stabil di kisaran 6,5% maka yield obligasi dengan usia lebih dari 10tahun juga tidak berfluktuasi tinggi, dan masih memberikan pendapatan lebih tinggi dari BI rate.

semoga membantu dan salam investasi

Selasa, 21 Juli 2009

dampak bom pada ekonomi: masih bisa double digit??

Senin 20 Juli, wawancara di Elshinta, temanya dampak bom terhadap ekonomi. Apalagi yang meninggal salah satunya presdir Holchim. Disambung dengan, apakah masih bisa double digit kalau sdh dibom?

Kalau dampaknya, secara langsung dan cepat tidak akan terlihat dalam jangka pendek. Dan saya rasa dalam jangka panjang juga tidak akan terlalu banyak berdampak. Wong negara-negara lain juga kena krisis global, sehingga kontraksi ekonomi ada dimana-mana. Jadi tanpa bom atau dengan bom, tidak akan merubah terlalu banyak indikator ekonomi kita. Akan lain ceritanya bila tidak ada krisis global, mungkin dampaknya akan lebih buruk.

Kemudian mengenai double digit? ya tanpa bom aja kita tidak bisa double digit, terlalu naif kalau berpikir kita bisa tumbuh double digit padahal tempat kita jual barang (pasar ekspor) sedang tidak kondusif.
Sebagai tambahan, India dengan 35% PDB di reinvestasikan, bisa tumbuh "hanya" 8%. Kita dengan 25% PDB di reinvestasikan (data 2008), tumbuh 4% (asumsi APBN 4,3% - 4,8%). Jadi kalau mau tumbuh lebih dari 4%, ya harus lebih banyak reinvestasi, atau tambah dengan utang (tentunya utang denominasi $).
Cheers up...karena teroris tidak bisa menggoyang ekonomi kita, wong sudah duluan digoyang krisis sub-prime :-)

KAMI TIDAK TAKUT
INDONESIA UNITE

Selasa, 26 Mei 2009

Ketika Politik dan Ekonomi bertemu

Baru saja hadir di acara seminar BEI mengenai Politik dan Prospek Ekonomi dikaitkan dengan politik terutama Pilpres. Lumayan bagus paparan dari Eep Saifullah Fatah, dan menghibur.
Intinya mungkin selama ini kita di Indonesia sudah jenuh dengan politik yang itu itu juga loe lagi loe lagi..tapi bagi pasar modal, politik itu indikator yang penting juga dalam mengantisipasi pergerakan ekonomi makro. Lihat saja apa yang terjadi kalau subsidi BBM dihapuskan (SBY bilang akan memberikan insentif yang menarik bagi investor di bidang energi, waktu dia presentasi di kadin).
Apa itu berarti orang pasar modal harus belajar politik, takutnya malah bukan jadi investor malah jadi caleg..jee..
Menurut saya, sebaiknya kita di pasar modal cukup memahami kebijakan ekonomi yang akan diambil rezim berkuasa nantinya. semakin sedikit indikator diluar ekonomi, seharusnya analisisnya jadi semakin tajam. Terlalu banyak indikator diluar ekonomi dan pasar modal yang digunakan, ujung-ujungnya tidak jelas mau ngapain. Saking bingungnya... :-)
Ada satu hal yang menarik lagi, bahwa menurut Eep, siapapun yang berkuasa, arah ekonomi kita tidak akan terlalu banyak berubah. Alasannya karena para capres itu berpenyakit plin plan. kalo dengan kalangan pasar modal mungkin akan bilang memberikan seluas-luasnya kesempatan investasi termasuk bagi asing. Besoknya kalo didepan petani bilang akan memproteksi petani dari bahan pangan impor. Prabowo bilang jangan jual BUMN, Mega jual BUMN, hehee...ini yang paling saya ingat. Ada benarnya juga, namun kalo saya melihat stabilitas maka sebaiknya tentu memilih capres yang memberikan stabilitas politik, sehingga menjamin stabilitas kebijakan ekonomi misalnya kebijakan ekonomi tidak terkendala di DPR, tidak diobok-obok demi kepentingan golongan, dll. Salam contreng..

Jumat, 01 Mei 2009

Menambah jumlah investor domestik

Diskusi mengenai pasar modal begitu bersemangatnya sampe waktu pulang kuliah sudah tiba padahal masih banyak hal menarik bisa didiskusikan. Pertanyaan singkat yg memancing diskusi adalah apa tantangan kedepan bagi dunia investasi khususnya pasar modal? Ada yang menjawab sekuritasasi. Alasannya dengan menciptakan surat berharga baru yang lebih terjangkau, maka investor baru akan masuk. Good point.

Ada yang menjawab perlu edukasi, alasannya karena investor kurang mengetahui pasar modal itu apa, jadi mereka tidak berani berinvestasi. Semua jawaban itu benar adanya. Sayangnya semua sudah dilakukan oleh otoritas bursa, misalnya ada Kontrak Opsi Saham, Indeks LQ yang diperdagangkan, dan lainnya, dan baru-baru ini IDX membuat sekolah pasar modal gratis tis tis..bagi masyarakat yang minat.

Data terbaru dari sebuah perusahaan sekuritas menunjukan jumlah investor domestik kita tidak sampai 500.000 orang, dari 100-an juta penduduk yang produktif (bekerja dan berpenghasilan). Tidak perlu dibandingkan dengan Malaysia, apalagi Singapura, nanti malah tambah sedih :-(
Terbesit dalam diskusi, apakah kebijakan edukasi, dan sekuritasasi itu belum cukup. Poin lainnya mungkin diperlukan penegakan hukum yang lebih baik. ok good point juga, dan kita lihat buktinya, baru-baru ini saja (lihat press release BEI, 29 April 2009) sebuah sekuritas BUMN didenda oleh BEI karena melakukan pelanggaran dalam perdagangan reksadana. Kita salut juga dengan BEI dan BAPEPAM. Tapi sepertinya jalan keluar penegakan hukum sudah sering kita dengar, dan buktinya sampai saat ini belum mampu meningkatkan investor domestik kita, katakanlah menjadi 1 juta investor.

Apalagi yang kurang?
Mungkin ada yang terlewatkan selama ini. Disatu sisi otoritas sibuk menarik investor domestik untuk investasi, namun cari menariknya dari sisi pelaku pasar misalnya broker cenderung kurang tepat. Sedangkan investor domestik yang sudah bermain tidak dijaga dan diedukasi pula. Saya runtutkan dari sistem rekrutmen investor baru oleh sales sekuritas, sebagai contoh bila seorang broker akan menarik investor baru, biasanya yang diajarkan terlebih dahulu adalah analisis teknikal. Mungkin karena ini yang paling "mudah" dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Kalau ditanya mengapa kalau garis moving averagenya berpotongan kita jual atau beli? Broker mungkin dengan entengnya menjawab, ya memang begitu dari dulu, kalau motong artinya jual/beli, titik. end of story. Dibumbui sedikit dengan "gampang khan". Mungkin pula dijelaskan sedikit mengenai risiko, tapi dibumbui pula bahwa kalau analisis teknikalnya sesuai, ya risikonya rendah. Investorpun mencoba, dan nah ini, parahnya dengan pemahaman yang terbatas tadi investor kemudian investasi saham. Maka kita menemukan pasar yang seperti "bara dalam sekam", sedikit-sedikit panik, paranoid, dan lainnya (kasus redemption, indeks 2800 menjadi 1200-an, dll). Akhirnya investor yang rugi besar (mungkin karena panik tadi) keluar dari pasar dan tidak kembali lagi. KAPOK..dan secara tidak langsung, investor kita menjadi seorang trader dengan pola investasi jangka pendek dan bukan menjadi investor sebenarnya.
Bukan berarti saya menyepelekan teknikal analisis. Tetapi ada baiknya belajar dahulu fundamental analisis yang membuat investor menjadi seorang investor murni, dengan periode investasi jangka panjang. Lagian kalau investornya kapok, yang rugi sebenarnya juga brokernya karena fee menjadi berkurang.
Menduanya adalah kalau diajarkan fundamental analisis, kapan transaksinya, karena fundamental analisis sangat mendalam dan membutuhkan waktu yang cukup lama mempelajarinya.

Bagaimana kalau step-stepnya seperti ini bagi investor baru:
1. Jelaskan mengenai konsep dasar risk dan return dan sekaligus mengetahui profil risiko nasabah. Ada nasabah yang berhati-hati karena tidak tahu investasi, ada investor yang berani, juga karena tidak tahu investasi (ini yang gawat - tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu ).
2. investasi dulu di Reksadana Pendapatan Tetap atau reksadana pasar uang, risikonya secara umum lebih rendah dari saham. Saya yakin perusahaan sekuritas mempunyai asset management unit yang mempunyai reksadana pendapatan tetap atau pasar uang dan mampu mengelola reksadana dengan baik.
3. kalau sudah familiar, ya tergantung kesiapan investornya, mungkin bertahap investasi juga di reksadana saham.
4. selama tahap 1-3 investor secara kontinyu mendapatkan bahan-bahan fundamental analisis sederhana, misalnya konsep nilai intrinsik, analisis ekonomi, industri, dan lainnya.
5. berikan secara bertahap informasi analisis teknikal tanpa bermaksud menjadikan analisis ini sebagai acuan dasar.
6. siap bermain saham secara langsung dengan bantuan broker. Jangan melepas investor dengan transaksi on-line, karena mereka masih membutuhkan broker. Arahkan menggunakan analisis fundamental kemudian teknikal, dengan periode investasi yang cukup panjang, misalnya 2 tahun dengan transaksi setiap 2 bulanan hanya untuk ganti formasi portofolio (jual yang sudah kemahalan, beli yang sudah kemurahan).
Saya rasa bila pola ini dipakai, walaupun tidak instan (tapi menjerumuskan), akan secara konsisten meningkatkan jumlah investor domestik kita.

Bayangkan kalau investor domestiknya katakanlah ditahun 2010 menjadi 2juta orang. Dengan jumlah broker bersertifikasi di tahun 2007 saja baru sebanyak 4103 orang, maka masing-masing broker akan mempunyai 2juta/4103 = 487 client. Katakan setiap client bertransaksi 2 bulan sekali senilai Rp5juta, fee net (berdasarkan data fee rata-rata) misalkan Rp12000 maka 1 orang investor akan bertransaksi selama 1 tahun sebanyak 6, dikali 12000 = 72000. Dengan 487 investor, dikali 72000 sama dengan Rp35.064.000 per tahun (sebulan komisi = Rp2.922.000). kecil iya, lumayan juga iya, dan ini hitungan konservatif lho.

Cara lainnya? Nanti ditulisan selanjutnya....
Enjoy it... dan jangan lupa tanggapannya…
PS. Salah benar mohon dimaklumi...namanya juga belajar keuangan sederhana...

Minggu, 08 Maret 2009

Prinsip opportunity cost dalam keuangan personal

Selama ini masyarakat awam jarang sekali mendengar istilah opportunity cost. Apapula itu biaya kesempatan? (saya ngga tau apakah terjemahannya benar). Opportunity cost bisa juga diterapkan untuk benefit atau revenue. Dalam keuangan, opportunity cost (singkat aja OC), adalah biaya yg seolah-olah kita keluarkan dan kita perhitungkan bila kita memilih suatu pilihan dengan mengorbankan pilihan lainnya. Susah ya bahasanya. Kita contohkan yang sederhana saja, dalam prinsip pengelolaan uang personal, atau personal finance. Misalnya anda memutuskan untuk membeli mobil. Ada pilihan mobil A dan B, tentu saja dengan desain yang berbeda, namun dengan spesifikasi yang sama, layanan purna jual yang sama (jumlah, service,dll), harga onderdil relatif sama. Keduanya adalah mobil sedan kompak (1500cc). Mobil A harganya 150juta, mobil B harganya 180juta. Karena konsumen Indonesia sangat unik, maka biasanya juga melihat nilai jual kembali (resale value), walaupun kita tahu bahwa membeli mobil untuk dipakai, bukan untuk dijual kembali:-)
Katakanlah mobil A resale value setelah 3 tahun pakai kira-kira 70juta, dan Mobil B resale value adalah 120juta. Bagi pasar mobil ternyata mobil B dipersepsikan lebih tinggi dari sisi kualitas, kenyamanan, dan lainnya. Maklum, khan konsumen Indonesia, padahal jelas-jelas spesifikasinya sama. Disini prinsip OC bisa diterapkan.
Bila tidak menggunakan OC maka tentunya kita akan memilih mobil B yang dibeli dengan 180juta dan bisa dijual kembali 120juta, jadi kita hanya seolah-olah mengeluarkan ongkos 60juta untuk mobil yang dipakai selama 3 tahun (per tahun 20juta). Dibandingkan dengan mobil A, dengan harga beli 150juta, dan dijual kembali 70juta, maka kita seolah-olah terbebani ongkos 80 juta untuk 3 tahun (26,9juta/th).
Karena kita menerapkan prinsip OC maka perhitungan menjadi sbb:
Bila kita memilih mobil A, maka kita sebenarnya sudah mendapatkan keuntungan sebesar 30juta. mengapa? karena daripada membeli mobil B dengan spesifikasi yang sama dengan mobil A, dengan harga yang lebih mahal 30juta. Artinya lagi, barangnya sama namun uang yang kita keluarkan lebih sedikit 30juta. Inilah OC berupa gain (keuntungan) atas memilih mobil A. Bila kemudian mobil A kita jual 3 tahun kemudian seharga 70juta ditambahkan 30juta keuntungan dari OC diawal karena memilih mobil A, maka keuntungan total kita menjadi 100juta. Artinya selama menggunakan selama 3 tahun kita hanya mengeluarkan uang 50juta (beli 150jt-(jual 70jt+OC 30juta))=50juta atau sekitar 16,9juta/tahun).
Sedangkan bila kita membeli mobil B, maka berdasarkan OC kita sudah menanggung cost diawal 30juta, kemudian dijual seharga 120juta, maka total nilai jual hanyalah 120juta-30juta=90juta. Sehingga bila membeli mobil B seharga 180juta-90juta=90juta selama 3 tahun (30juta/tahun).
Maka dikatakan bahwa mobil A lebih mempunyai "value for money" dibandingkan mobil B.
Tentu saja disini kita menyederhanakan dengan tidak menghitung nilai waktu uang, dan pilihan berdasarkan aspek-aspek perilaku konsumen dalam pemasaran, dan juga tidak mempertimbangkan angsuran per bulan (bila membeli secara kredit), service rutin, pajak kendaraan.
Selanjutnya pilihan tetap pada konsumen khan, saya khan hanya bantu lihat dari sisi keuangannya.
Salam keuangan personal

Sabtu, 28 Februari 2009

saat akumulasi kecemasan berbalik menjadi optimisme (dalam mimpi)

wah ngga terasa sudah hampir 1 tahun pasar modal kita mengalami masa-masa kecemasan dan keraguan. Minggu lalu tiba-tiba saja ada wartawan dari Kabarbisnis.com yang menelepon, dan minta penjelasan mengenai investasi riil maupun pasar modal. Saya pikir kesempatan baik juga untuk menceritakan proposisi saya mengenai akumulasi kecemasan. Dalam behaviour finance, masalah utama untuk memprediksi prilaku yang mulai berubah (misal dari bersemangat menjadi lesu, atau sebaliknya) adalah mengindikasi kapan terjadi akumulasi prilaku yang nantinya mampu merubah kognisi seorang seseorang. Nah saya ada proposisi, mungkin bisa di teliti. Melihat perkembangan pasar saat ini dimulai januari 2008 sampai saat ini. Lihat gambar dibawah.



Terlihat bahwa penurunan IHSG cukup signifikan menyeret para investor untuk takut akan pasar modal. Hi...data speak for themself.. ;-) Pola penurunan terjadi dari awal tahun sampai dengan pertengahan Nopember. Diikuti oleh akumulasi kecemasan maka pertengahan bulan nopember sampai saat ini dimulailah masa kecemasan dan keraguan. Lihat saja pergerakan indeks yang naik turun naik turun, tidak ada trend yang dibentuk pasar.
Penurunan indeks ini kemungkinan adalah saat bagi investor jangka panjang untuk menjauhi pasar modal sementara waktu, dan bagi investor jangka pendek untuk menyerbu dengan analisis teknikal yang mumpuni, dengan harapan mampu memperoleh gain.
Pertanyaannya, sampai kapan pasar seperti ini? Proposisi saya mencoba menjawabnya. Coba lihat gambar yang berikut dibawah ini:



Gambar diatas menunjukan pola jangka pendek dari awal tahun 2009 sampai dengan saat ini akhir februari. Melihat pola penurunan yang terjadi, dan indikasi informasi pasar di media massa yang masih menyoroti mengenai "question mark" stimulus ekonomi, maka saya tidak yakin bahwa akumulasi kecemasan akan berbalik menjadi optimisme paling tidak sampai akhir semester pertama tahun ini.

Jadi bagi investor jangka panjang, liriklah aset keuangan lain yg cukup juicy seperti suku ORI, dkk. Bagi investor jangka pendek, keep your speculation spirit supaya pada akhirnya ada akumulasi optimisme yang tinggi untuk menggerakan trend bullish (hope so..).
Itu proposisi saya, moga aja ada yang mau meneliti, dan membentuk model prediksinya.
Salam investasi

Kamis, 12 Februari 2009

Tips Murah Meriah Kartu Kredit

Susah mengendalikan menggesek kartu kredit? saya ada 1 tips yang bisa dicoba, sapa tau menyukainya. Bila akan belanja dgn kartu kredit maka harus memperhatikan tanggal terakhir pencatatan transaksi kartu kredit. Biasanya ada di form laporan tagihan bulanan. Misalnya tanggal terakhir pencatatan 5 setiap bulannya dengan batas jatuh tempo pembayaran 21 setiap bulannya. Maka sebaiknya belanjalah setelah tanggal terakhir tersebut. Contohnya anda belanja tanggal 6 Februari 2009, maka belanja ini tidak akan ditagih di tanggal 21 Februari namun tagihannya baru akan muncul di tanggal 21 Maret 2009. Bayangkan aja, anda bisa meminjam uang bank, tanpa bunga selama 45 hari (6 Feb sampai 21 Feb). Lumayan khan...

January effect lagi

Beberapa waktu yang lalu saya menulis bahwa january effect tidak akan terjadi tahun ini (2009). Dan kalo dilihat memang tidak terjadi january effect walaupun saya sebut sebagai hal ini masih proposisi. Dalam kondisi sideways seperti ini maka january effect akan sulit terjadi. Tidak seperti tahun lalu, dimana IHSG sempat turun drastis di tanggal 22 Januari 2009. Hal ini masih bisa diuji dengan secara ilmiah, yah namanya juga blog easy finance, jadi dibuat easy aja dulu. Nah yang terjadi saat ini adalah pola keraguan yang cukup besar dari pelaku pasar modal, sehingga diantara keraguan itu terbersit ketakutan akan kehilangan kekayaan, kekecewaan akan kerugian masa lalu, dan keterpanaan karena merasa keputusan investasi yang sudah dilakukannya salah. Jadi dalam kondisi tersebut, sebagai mahluk yang risk averse (selalu menghindari risiko) sangat sulit bagi investor untuk mengambil keputusan investasi. Argumen ini diperkuat oleh volum transaksi yang rendah hampir selama Januari, dan kemungkinan masih dilanjutkan di 1-2 bulan kedepan. Namun ini belum teruji lho, maka monggo silakeen di uji dengan pendekatan ilmiah sehingga argumennya bisa terbukti atau ditolak. Salam investasi

Senin, 26 Januari 2009

Hidup Skema Ponzi..!!

Saat perkuliahan, saya dan mahasiswa membahas mengenai skema ponzi. Skema ponzi sebenarnya termasuk primitive yang ditemukan oleh charles ponzi pada 1928 (kalo saya ngga salah,bila salah maaf). Yang kami bahas cukup menarik yaitu pertanyaan mengapa skema ponzi yang berusia hampir 72 tahun,masih saja tokcer utk menipu investor,contohnya kasus madoof. Madoof menipu investor dengan nilai yang cukup fantastis, hampir 56milyar dollar and still counting. Di Indonesia skema ponzi juga sudah banyak memakan korban, misalnya arisan bahan pokok di bandung, atau qisar, dll.
Sedikit penjelasan mengenai skema ponzi, bahwa model penipuan ini berjanji akan memberikan tingkat keuntungan yang tinggi, lebih tinggi dari rata-rata return pasar modal. Darimana tingkat return yang tinggi itu? Nah rahasianya adalah tingkat return tersebut diambilkan dari investor baru,yang baru saja menanamkan uangnya di perusahaan penipu ini. Hal ini akhirnya akan membentuk suatu piramida yang bagian atas adalah investor lama, dan bagian bawah dan seterusnya adalah investor baru, demikian seterusnya, sampai tidak ada lagi investor baru yang masuk dan piramidapun kolaps.
Diskusi kami sampai pada suatu titik temu, bahwa tingkat edukasi investor khususnya pada bidang keuangan tidak berarti apa-apa bila investor dalam kondisi panik atau tidak rasional. Lihat saja para investor madoof,kurang apa coba, selain kaya, banyak diantara mereka adalah investor bangkotan dipasar modal,sudah malang melintang di dunia persilatan pasar modal ini.
Kondisi kepanikan, menyebabkan investor bertindak irrasional sehingga tidak mampu mengambil keputusan investasi. Kepanikan muncul tentu disebabkan oleh ketakutan akan kehilangan kekayaan, apalagi ketakutan itu datang secara mendadak, dan tidak ada antisipasi sebelumnya. Inilah dalam behavioral finance disebut shifting dari kognisi yang sebelumnya selaras (konsonan) menjadi kognisi yang tidak selaras (dissonan). Walaupun dalam diskusi kami dikelas, belum sempat membahas adanya dukungan empirik dari argumentasi ini, namun tidak menutup kemungkinan utk diteliti dikemudian hari. Apalagi utk pasar modal Indonesia yang investornya belum teredukasi dengan baik. Belum lagi bila membahas adanya keserakahan (greed) dalam diri manusia yang menyebabkan kita sering kehilangan akal sehat dan mengejar return setinggi langit yang sebenarnya mimpi. Jadi, adakah yang mau menguji argumen kami ini?
Selama investor panik dan serakah, maka Hidup Skema Ponzi…!!

Senin, 05 Januari 2009

January Effect

Happy Good Year 2009 untuk semua

Bulan Januari selalu menjadi bulan optimis di pasar modal, itu biasanya lho. Namun hati-hati dengan January Effect. Biasanya (tidak setiap Januari), harga saham terutama yang menggerakan pasar, akan turun secara signifikan, dan menyebabkan indeks tertekan lebih dalam. Sedangkan saham-saham lapis dua akan anteng dan adem ayem saja. Apa penyebabnya? nah ini kita bahas lain waktu aja ya.

anyway...Januari 2008, penurunan yang tajam terjadi pada tanggal 22 Januari, yang cukup mengejutkan karena biasanya Januari efek terjadi di tanggal pertengahan bulan antara 12-18 Januari.
Ya kalo tahun ini, saya kok ragu ya bakalan ada Januari efek, wong semua saham juga sudah rendah harganya, mau turun ke berapa lagi coba..??
Jadi stay cool aja, saya rasa efek Januari tidak akan cukup besar.
Cheers and enjoy it

Senin, 15 Desember 2008

Auto Rejection BEI

Hari Senin tanggal 10 Nov 2008, bertepatan dengan hari Pahlawan, dalam suatu wawancara radio di Suara Surabaya, pertanyaan seputar Auto Rejection mengemuka. Binatang apa pula itu Auto Rejection (AR)? Cerita berawal dari ukuran risiko dalam keuangan, risiko dihitung dengan varian, dan varian mencerminkan gerakan naikdan turun sekuritas atau surat berharga keuangan atau aset keuangan. Nah semakin bervariasi gerakan aset keuangan (naiknya tajam, turunnya tajam, atau naiknya sering, turunnya sering, alias sering bikin kaget dan panik) maka varian (atau standar deviasinya) akan semakin besar maka dapat dikatakan bahwa risikonya akan semakin besar.
Dengan mekanisme AR maka BEI akan menjaga level kenaikan dan penurunan saham di bursa sehingga varian (risiko) akan rendah. Tentu bila risiko rendah, maka risiko investasi investor juga akan rendah (tentu melegakan kalo risikonya rendah). Cuma jangan terus-terusan rendah, nanti return investasi ya juga rendah.
Seringkali investor kecil merasa bahwa kehilangan uang (atau penurunan nilai uang yang diinvestasikan) adalah risiko.
Seperti yang dijelaskan diatas sisi keuangan risiko adalah variasi nilai saham (return) sehingga selain penurunan yang tajam maka kenaikan yang tajam juga merupakan suatu risiko, sehingga risiko dilambangkan dengan varians atau standar deviasi. Tugas BEI sebagai otoritas bursa yang melakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi risiko khususnya bila risiko terjadi saat kondisi pelaku pasar irrasional.

Jumat, 07 November 2008

Kebijakan Ekonomi OBAMA: begitulah adanya

Selamat ya buat Om Obama, yang menang kemarin di Amrik dan nanti Januari akan dilantik. Apa ya ada dampaknya kebijakan ekonomi Obama pada Indonesia? Saya sendiri juga bingung mencari tau, karena kebijakannya hampir mirip dengan Mc Cain, tapi dengan cara yang berbeda. Contoh kebijakan pajaknya. Kalo Mc Cain, potong pajak untuk orang kaya, sehingga mereka bisa consume and invest more (begitu kata si Palin) sehingga orang kaya ini akan menggerakan ekonomi. Tapi apa iya, orang kaya akan menggerakan ekonomi Amrik? Jangan-jangan mereka malah membawa kabur uang mereka ke negara-negara yang memberikan tingkat return investasi yang lebih tinggi.
Kalo Obama, kebijakan pajaknya kebalikannya, naikan pajak untuk yang perpenghasilan 250ribu US, dan turunkan pajak bagi yang dibawah $200 ribu. Sama untuk mendorong pertumbuhan, karena pajaknya nanti untuk meningkatkan pengeluaran pemerintah (kerennya government expenditure). Pengeluaran pemerintah ini seharusnya khusus untuk proyek-proyek padat karya, untuk menyerap pengangguran.
Tapi apa iya ada pengaruhnya dengan Indonesia? Ini yang masih menjadi pertanyaan besar. Namun kalo boleh jujur, sepertinya pengaruh yang didengung-dengungkan bahwa bila Obama terpilih maka krisis global akan segera mereda, tidak begitu sahih. Lihat saja indeks IHSG kita, waktu Obama terpilih, masih stabil tuch, maksudnya stabil turunnya ;-D
Lha wong, rupiah kita aja melemah, padahal fundamental ekonomi baik, dan krisisnya ada di Amrik. Lho kok malah Rp melemah terhadap Dollar, bukannya harus sebaliknya ya?
Yang pasti si Obama akan menghadapi tantangan besar, persis masa great depression di Amrik dulu (ngga tau great depression?? makanya baca buku sejarah). Saya rasa kita tunggu aja sekitar pertengahan bulan ini, dan lihat indeks, arah trend-nya apa sudah berbalik naik. Jadi kalo mau investasi di pasar modal, baru Obama menang, jangan asal inves. Slowly aja, kita liat perkembangannya. Wong dana kita ya juga sudah cekak gara-gara krisis :-D

Selasa, 21 Oktober 2008

apa sich Sub Prime Mortgage?

Saat interview di Radio ada pertanyaan: Apa sich Sub Prime Mortgage? berhubung yang bertanya adalah pihak awam. Maka saya memberikan penjelasan awam juga :-)
Mortgage: kalo di Indonesiakan hampir mirip Surat Gadai; namun kalo di Amrik, mortgage bisa diperjualbelikan layaknya saham. Aset yang dijadikan jaminan gadai adalah rumah (dalam hal ini sertifikat kepemilikan rumah). Yang menggadaikan adalah bank dimana si empunya rumah pinjam duit untuk membeli rumah. Yang menjualkan adalah mortgage broker bekerjasama dengan investment banker spt si Lehman Brothers yang akhirnya jadi Lemah Brothers itu lho ;-) Dijualnya kepada individu-individu kaya, perusahaan-perusahaan spt sekuritas, asuransi, dll. Jadi sebenarnya bank minjemkan duit kepada si empunya rumah, tidak menggunakan uang mereka sendiri tetapi uang dari perusahaan-perusahaan atau individu-individu kaya, dengan cara  menggadaikan sertifikat rumah.
Prime maksudnya (bukan arti kamusnya lho): yang utama atau yang berhak
Sub-Prime maksudnya: dibawah kelompok yang utama (atau yang berhak); atau kelompok nanggung :-) karena nanggung berarti kelompok ini sebenarnya tidak mampu membayar cicilan rumah, atau parahnya tidak mampu membeli rumah.
Jadilah kredit rumahnya macet, si empunya rumah tidak mampu bayar cicilan, kemudian bank tidak mampu bayar pihak-pihak yang membeli surat gadainya. Selanjutnya rumahnya disita oleh bank, dan bank menjual rumah tersebut. Namun karena dalam waktu bersamaan banyak pembeli rumah yang tidak mampu bayar (istilah kerennya foreclosure), maka banyak rumah yang harus dijual oleh bank. Ya..jadinya hukum supply dan demand, supply rumah naik, harga rumah jadi turun. Karena harga rumah turun, maka walaupun rumah tersebut akhirnya terjual, tapi bank masih kekurangan dana untuk membayar pemegang surat gadai (mortgage).
Mengapa bank mau ngasi pinjaman kepada orang yang ngga mampu bayar cicilan, bahkan ngga mampu beli rumah? Nah ini terkait dengan keserakahan. Akhirnya berpulang kepada pengendalian diri, ya tho... Btw, pertanyaan terakhir saya jawab next time ya. Mo jaga ujian dulu.

Jumat, 17 Oktober 2008

Unrealized loss

Judulnya emang keren sich, "unrealized loss". Saya cuman mau ngebahas mengenai kemarin2x dimana pasar modal kita nge-drop lumayan jauh. Banyak orang panik. Penyebabnya mungkin tidak menyangka akan turun sejauh itu karena terlalu percaya diri (overconfident), kurang informasi (asymetry information), atau ikutan investor kakap (herding behavior), dll. Well, kalo anda sudah membeli saham, dan telat menjual ketika pertama kali harga saham saudara tersebut turun, artinya uda kadung jebol :-), maka ingat aja dengan unrealized loss tadi. Artinya selama saham yang anda punya tidak anda jual, berarti anda belum rugi secara kas dengan kata lain ruginya belum terealisasi. Cuman memang kekayaan anda berkurang karena nilai aset pribadi (dalam hal ini saham) turun tetapi khan anda masih punya sahamnya (yang sewaktu-waktu bisa dijual kalo harganya sdh bagus). Kalo inget unrealized loss niscaya tidak panik menjual dengan harga murah, karena bila panik dan menjual maka selanjutnya kerugian anda akan terealisasi. cape...dech...

Rabu, 08 Oktober 2008

Reksadana sebagai investasi Investor Rookie (Pemula)

Apa itu reksadana? Apa bedanya dengan Dana Reksa? Bagaimana keuntungannya dan kerugiannya? Wow banyak pertanyaan, berkaitan dengan reksadana yang sering saya terima.

Reksadana versus Dana Reksa, uuhmm....bagi yang sudah kenal dunia keuangan tentu akan (maaf) tertawa atau tersenyum atau malah kaget dengan mulut menganga, yang dalam hatinya paling cuman bilang “Hare geneee...!”

Eits...jangan tertawa dulu karena pertanyaan itu sering saya terima, baik melalui dari talkshow, maupun dalam perkuliahan

Dana Reksa itu adalah perusahaan sekuritas milik negara (BUMN) yang salah satu produk mereka adalah Reksadana. Masuk saja ke websitenya www.danareksa.co.id

Kalau ada pertanyaan begitu berarti trik pemasaran Dana Reksa melalui tag name berhasil.

Reksadana dilain sisi merupakan salah satu instrumen investasi yang diterbitkan oleh suatu perusahaan sekuritas. Reksadana adalah sekumpulan aset keuangan, sering disebut portofolio, yang dikelola oleh wakil manajer investasi. Siapa wakil manajer investasi? Kok ada kata “wakil”nya? Apa bedanya dengan manajer investasi? Wah pertanyaannya kok jadi banyak yaJ

Jawabanya: tunggu publikasi blog lainnyaJ; pokoknya terima dulu aja ya. Janji nanti dijelasin dech.

Bagaimana prosesnya membuat reksadana? Ya karena ini easy finance, maka yang easy easy ajalah. Btw, kalo dijelasin disini, bisa jadi kuliah 8 semester di konsentrasi manajemen keuangan nich.

Reksadana dibedakan menjadi 3 tipe utama, biasanya berdasarkan kumpulan aset keuangan yang ada didalamnya. Untuk memilih reksadana maka investor harus memahami Tujuan mereka berinvestasi (investment objectives). Bagi investor pemula yang menitikberatkan keamanan berinvestasi, sebaiknya memilih reksadana pasar uang, atau reksadana pendapatan tetap. Reksadana ini relatif berisiko rendah karena diinvestasikan pada aset-aset yang juga mempunyai risiko yang rendah. Namun harus dipahami bahwa risiko yang rendah tentunya jangan terlalu berharap bahwa investasi saudara akan memiliki return yang tinggi.

Trik memilih reksadana:

Pertama: pelajari dahulu riwayat pergerakan harga unit penyertaan. Informasi ini dapat saudara peroleh di perusahaan penerbit reksadana bersangkutan.

Kedua: jangan percaya begitu saja dengan data historis ini, maka saudara harus membandingkan dengan data historis produk reksadana lainnya yang sejenis (ingat konsep apple to apple – bandingkan sesuatu dengan sesuatu yang setaraf).Lihat perbedaan kinerja returnya, dan tanyakan mengapa ada perbedaan.

Ketiga: bagi investor pemula, ini sangat membantu, yaitu tanyakan pada investor yang sudah pernah menggunakan jasa perusahaan sekuritas penyedia produk reksadana dimaksud. Opini pengguna sebelumnya sangat relevan dalam menemukan informasi yang tidak tersedia di laporan maupun berita.

Keempat: jangan sungkan bertanya (daripada tersesat di jalan), jangan malas mencari informasi mengenai apapun yang berhubungan dengan reksadana yang saudara pilih. Ingat sekarang saudara adalah Investor bukan lagi Penabung.

Selamat berinvestasi

Sabtu, 12 Juli 2008

emas untuk investasi

Kemarin pagi tgl 12 Juli 2008, ketika menjadi narasumber dalam Talkshow ISEI Surabaya di Sonora FM Sby terdapat pertanyaan yang cukup menarik dari audien: Apakah investasi di emas menguntungkan saat ini, melihat harga emas yang semakin naik?
(tidak jelas yang dimaksud audien ini mengenai emas yang dimaksud, apakah sebagai aset keuangan atau aset non-keuangan. Namun saya jelaskan kedua-duanya)

Sederhana saja, investasi tidak hanya berlaku dalam aset-aset keuangan (saham, obligasi, reksadana, dll), namun juga pada aset non-keuangan (aset berwujud/aset tetap) seperti emas, rumah, dll. Prinsip dasarnya adalah menjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga beli, sehingga dikatakan memberikan keuntungan (return).

Namun, ada kelemahan utama (masih ada kelemahan lainnya) investasi di aset non-keuangan yang perlu diperhatikan terutama bagi investor individu yaitu emas likuiditasnya rendah, artinya ketika ingin dijual, membutuhkan waktu lebih lama untuk terjual. Atau kecepatan konversi menjadi kas/uang, rendah. Kelemahan utama ini menyebabkan emas tidak terlalu disarankan menjadi sarana investasi jangka pendek.

Saat ini terdapat sarana investasi dalam emas yang sudah mampu mengurangi kelemahan likuiditas tersebut yaitu investasi dalam bursa berjangka dengan membeli futures emas (www.bbj.co.id). Masalahnya Futures (kontrak berjangka) memerlukan pemahaman tentang investasi yang lebih mendalam (intermediate) sehingga tidak disarankan bagi investor yang sama sekali awam tentang investasi di aset keuangan.

Jawaban untuk pertanyaan audien diatas adalah:
  1. Bila merasa sudah cukup memahami mengenai investasi di aset keuangan, tidak ada salahnya melirik pasar futures emas sebagai sarana investasi.
  2. Sebaliknya bila pemahaman mengenai investasi di aset keuangan masih belum mencukupi, sebaiknya pertimbangkan dengan lebih mendalam untuk berinvestasi di futures emas.
  3. Sedangkan investasi di emas sebagai aset non-keuangan (misal membeli emas lantakan, dan lainnya yang berwujud emas) maka ingatlah bahwa investasi ini bersifat jangka panjang artinya lebih dari 1 tahun. Artinya pula, gunakanlah uang yang benar-benar "menganggur" untuk investasi ini, bukan uang yang sewaktu-waktu anda butuhkan.

Semoga membantu

Kamis, 10 Juli 2008

is it necessary? is it true?

Sebelum membeli barang atau jasa (untuk konsumsi), ada dua pertanyaan utama untuk kita jawab dan telaah. Cukup luangkan sejenak, tidak perlu sampai berkerut, toh itu uang anda :-)
1. is it necessary? apakah perlu? disini ada skala kebutuhan, yang akan menjaga kita untuk tidak melakukan pembelian karena dorongan emosi (impuls buying). disini juga ada skala prioritas, dalam artian "seberapa perlu?". Prioritas biasanya diberikan kepada barang-barang kebutuhan pokok sesuai urutan yaitu pangan, sandang, dan papan.
2. is it true? apakah sesuai dan tepat dengan kebutuhan? bedakan kebutuhan dengan keinginan, keinginan cenderung tanpa batas, namun kebutuhan ada batasnya. Kebutuhan akan makan, manusia biasanya makan 3x sehari, tapi keinginan akan makan, namanya "lapar mata" (beli banyak tidak bisa dihabiskan).

Selamat mencoba

Selasa, 24 Juni 2008

Apa bedanya investasi dan menabung?

Waktu mengisi suatu acara talkshow di radio, salah satu pendengar menanyakan mengenai judul diatas. Perbedaan mendasarnya dengan menggunakan penjelasan sederhana adalah bila menabung maka kita akan mendapatkan imbalan berupa tingkat bunga atau bagi hasil yang tetap (memang bisa berubah karena beberapa faktor), namun tidak bisa negatif.
Namun kalau investasi, kita juga akan mendapatkan imbalan berupa return (istilah keuangan untuk mencerminkan imbalan atas investasi), dan besarannya bisa positif dan bisa negatif. Jadi kalau ingin berinvestasi, maka bersiaplah akan imbalan yang bisa menjadi negatif.

Lha kalo gitu, kok ya ada yang mau berinvestasi, padahal bisa dapat imbalan negatif???

Tentu ada yang mau, ada yang tidak. Yang tidak mau, itu adalah pilihannya, sedangkan bagi yang mau, tentu karena mereka bisa mendapatkan imbalan investasi lebih besar dibandingkan bila hanya menabung.

Salam investasi ;-)

Jumat, 20 Juni 2008

Niat untuk Nabung

Banyak yg bingung bagaimana mengatur uang. Banyak juga yang bingung karena ngga punya uang. Nah yang terakhir saya kurang bisa membantu :-)
Kalo yang pertama, kita bisa pakai prinsip personal finance sederhana yaitu saving first consume later. Artinya bila ingin suatu saat uang anda bekerja untuk anda, maka niatkan menabung dulu sebelum uang itu dikonsumsi. Mudah diucapkan/ditulis, sulit diterapkan.
Mungkin pernah dengar yang namanya Financial Freedom, kebebasan dari sisi keuangan. Bukan bebas menggunakan uang:-)
Financial freedom dapat dimulai dari jargon saving first consume later tadi. Cobalah dengan 10% atau 20% penghasilan bulanan ditabung, sisanya baru di konsumsi. Coba buat tabungan yang terpisah antara tabungan untuk konsumsi (ada fasilitas ATM) dan tabungan murni (tanpa ATM).
Selamat mencoba, jangan patah semangat